Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH
Blog EntryFeb 9, '08 5:02 AM
for everyone
Imam Al-Ghazali yang yang tersohor dengan julukannya Syaikhul Islam, suatu hari menceritakannya mimpi yang dialaminya kepada para sahabatnya. Dan bila seorang imam besar seperti beliau menceritakan mimpinya, bukan berarti itu hanyalah cerita atau dongeng khayalan semata. Karena hal yang tidak mungkin bagi Imam Al-Ghazali untuk mengatakan sesuatu yang tidak diyakinini kebenarannya, walaupun aneh dan nyeleneh mimpi itu untuk dapat di terima oleh orang awam.

Diceritakan pada suatu hari Imam Al-Ghazali tertidur lelap setelah lelah menulis sepanjang malam, dan tiba-tiba di dalam mimpinya Imam Al-Ghazali telah berada di dalam sebuah ruangan kaca yang teramat indah. Imam Al-Ghazali terperanjat manakala mengetahui kalau tempat yang indah gemerlapan itu adalah salah satu bagian dari surga yang dijanjikan Allah Suhaanahu wa Ta'aala bagi hamba-hambanya yang shalih.

Dan kemudian terdengarlah ada suara yang menanyakan kepada Imam Al-Ghazali, "Amal manakah menurutmu yang membawamu masuk ke surga Allah ini?"

Lalu Imam Al-Ghazali mulai menyebutkan satu demi satu perbuatan baik yang dianggapnya sangat berharga dan dapat membawanya masuk ke dalam surga, namun seluruhnya dibantahkan oleh suara tadi. Dan ketika sang imam sudah kehabisan perbendaharaan amal shalih, maka suara itu kemudian menerangkan, "Pada suatu malam ketika engkau sedang menulis kitab Ihya Ulumuddin, tiba-tiba seekor lalat terjatuh dan masuk ke dalam botol tinta milikmu. Engkau sempatkan diri untuk berhenti menulis, dan kemudian engkau mengangkat lalat itu dari dalam botol tinta dengan perasaan penuh iba. Lalu engkau bersihkan tinta yang menempel di sayap lalat tersebut sehingga lalat itu dapat terbang kembali dengan selamat. Itulah perbuatan kebajikanmu yang paling tinggi nilainya."

Jadi intisari yang dapat di ambil dari kisah ini, adanya satu tindakan yang sepertinya remeh tetapi memperoleh penghormatan sebagai simpanan pahala yang besar dan dapat mengantarkan seseorang yang mengerjakannya untuk masuk surga.

Dalam cerita dari Imam Al-Ghazali, hal itu tidak lain dikarenakan kebaikan yang dikerjakan oleh beliau tadi tidak pernah diingat-ingatnya lagi. Seakan-akan apa yang telah dilakukannya hanyalah perbuatan kecil yang tidak diharapkan balasannya dan tidak ada perhitungan apapun sesudahnya. Imam Al-Ghazali menenggelamkan jasanya yang begitu berarti bagi sang lalat, sampai-sampai beliau sendiri nyaris tidak mengenali kembali perbuatannya baiknya itu, lenyap dalam waktu karena telah menyatu dengan rasa kasih sayang yang baik.

Dengan alasan itulah maka kita sebagai makhluk yang diciptakan Allah Ta'aala dengan sempurna, harus melakukan ibadah kepadaNya dengan tidak untuk mengharapkan balasan pahala apapun, baik pahala duniawi ataupun pahala ukhrawi (akhirat), namun hanya sekedar menjalankan amal yang tulus demi turunnya ridha Allah Subhaanahu wa Ta'aala.

Jangan pernah mengungkit-ungkit dan mengingat-ingat kebaikan yang pernah dilakukan, tetapi upayakan diri untuk selalu berbuat baik.


funtasticfour wrote on Feb 9, '08
Cerita ini bisa menjadi pelajaran juga buat (terutama) ibu-ibu ya, termasuk saya. Pastinya pernah karena terlalu "hot"nya kita berbagi cerita dengan sesama teman, kita berucap "gue siy bukannya mau ngungkit-ngungkit ya, tp waktu itu gw lillaahi ta'ala kok, gw kan pernah kasih dia..bla..bla..bla..". Sesungguhnya tanpa kita sadari, kita telah terjebak dalam perilaku riya plus mengingat2 bentuk kebaikan kita kepada sesama.

Padahal kalau kita mau instrospeksi diri lebih dalam lagi, apa yang sudah Allah berikan kepada kita itu luar biasa tidak terhitung dan Allah tidak mengharapkan segala bentuk balasan apapun dari kita. Lalu kenapa kita mengungkit/menyebut2 kebaikan yang telah kita perbuat?? Siapakah kita??
karelkemal wrote on Feb 26, '08, edited on Feb 26, '08
susah memang hidup tanpa "pamrih", krn manusiawi sekali dari dasar hati paliiiinnnggg dalam bahwa kita berbuat baik krn ingin juga diperlakukan baik oleh orang lain......... :-).... gimana pak haji? sbgmn kita berbuat baik, melakukan semua yg diperintahkan agama... berharap surga sebagai imbalannya.... bahwa ada tujuan dari segala kebaikan dari diri kita...... bingungkan? antara pamrih atau bukan...
hajieric wrote on Feb 27, '08, edited on Feb 27, '08
Semuanya dikembalikan kpd niat, dan sebaik-baik niat adalah hanya utk mendapatkan ridha Allah Swt belaka. Namun tentunya segala sesuatu itu ada prosesnya, demikian pula dlm melakukan hal2 yg bersifat kebaikan. Mungkin diawali dengan perasaan pamrih, malu, takut, pengharapan, imbalan dsb. Akan tetapi dgn bergulirnya waktu, perasaan2 tadi akan menjadi pudar dgn sendirinya & akan jd hal yg biasa utk dikerjakan. Ingat, "Bisa karena biasa". Oleh krn itu, dlm hidup yang singkat ini maka amal shalih itu hrs juga diikuti dgn kemantapan diri dlm penghambaan kepada Allah Ta'aala. Iman dan taqwa hrs saling beriringan.
Add a Comment